BolaSkor.com - Pemilihan presiden Barcelona yang sempat tertunda akan digelar pada awal Maret mendatang. Namun siapa pun yang terpilih, kado pahit sudah menanti pemimpin baru Blaugrana.

Pemilihan presiden Barcelona awalnya akan digelar pada 24 Januari silam. Namun pelaksanaannya terpaksa ditunda karena adanya peningkatan kasus positif virus corona di wilayah Spanyol.

Tanggal 7 Maret akhirnya dipilih sebagai jadwal baru pelaksanaan pemilihan presiden. Tiga nama yaitu Joan Laporta, Victor Font, dan Toni Freixa akan bersaing merebut kursi nomor satu El Barca.

Baca Juga:

Antoine Griezmann Bukan Pemain Penting Barcelona

Barcelona Enggan Kibarkan Bendera Putih dalam Perburuan Erling Haaland

Tersibak, Manchester United Pernah Tawar Ansu Fati Rp2,5 Triliun

Pemilihan Presiden Barcelona

Tugas berat akan dihadapi presiden Barcelona yang baru. Mulai dari masa depan Lionel Messi hingga menggunungnya jumlah utang klub yang segera jatuh tempo.

Tak sampai di situ, sang presiden baru juga berpeluang mengawali masa kepemimpinannya dengan sebuah situasi yang kurang menyenangkan. Hal yang dimaksud yaitu tersingkirnya Barcelona dari dua turnamen sekaligus, Copa del Rey dan Liga Champions.

Empat hari sebelum waktu pemilihan presiden, Barcelona akan melakoni leg kedua semifinal Copa del Rey kontra Sevilla. Tim asuhan Ronald Koeman butuh kemenangan dengan selisih tiga gol untuk melaju ke final.

Hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan meski bukan mustahil. Barcelona pun dipastikan kehilangan trofi perdana yang bisa diraih musim ini.

Sementara tiga hari setelah waktu pemilihan, Barcelona akan melakoni leg kedua babak 16 besar Liga Champions dengan bertandang ke markas Paris Saint-Germain (PSG). Modal kekalahan 1-4 pada pertemuan pertama membuat peluang mereka nyaris tertutup untuk melaju ke fase selanjutnya.

Ironisnya, peluang Barcelona untuk meraih gelar LaLiga juga relatif kecil. Saat ini mereka masih tertinggal delapan poin dari pemuncak klasemen sementara, Atletico Madrid.

Situasi ini akan membuat presiden terpilih tidak bisa merayakan keberhasilannya memimpin Barcelona. Sebaliknya, bukan tidak mungkin ia akan mengeluarkan sejumlah keputusan yang ekstrim.

Salah satu contohnya adalah memecat Koeman dari kursi pelatih. Pria berkebangsaan Belanda itu memang menjadi sosok yang paling bertanggung jawab di balik serangkaian mimpi buruk ini.