BolaSkor.com - Tepat hari ini, 20 tahun lalu cerita hitam hadir di sepak bola Indonesia. Duel Derby Mataram antara PSIM Yogyakarta versus Pelita Solo dalam lanjutan Liga Indonesia musim 1999/2000 di Stadion Mandala Krida berakhir dengan kerusuhan besar.

Duel itu sejatinya bak David versus Goliath. Tim tamu yang musim perdana pindah ke Solo dari Jakarta berada di papan atas Grup Timur dan punya segudang materi pemain bintang.

Mulai dari para penggawa Timnas Indonesia seperti Listianto Raharjo, Aples Tecuari, Eko Purjianto, Ansyari Lubis, Aleksander Pulalo, hingga Seto Nurdiyantoro. Plus bintang-bintang asing seperti Bako Sadissou dan Olinga Atangana.

Baca Juga:

Pelatih PSS Sleman Dejan Antonic Sebut Kelanjutan Liga 1 Bakal Lucu Tanpa Suporter

Opsi Kelanjutan Liga 1 dari PSSI Sesuai Keinginan Arema FC

Sementara PSIM saat itu hampir dipastikan degradasi alias turun kasta. Namun, kondisi itu membuat motivasi anak asuh Subagyo Irianto untuk memenangkan pertandingan semakin berlipat.

Dilansir dari koran lokal Kedaulatan Rakyat, siang hari beberapa jam sebelum laga, sekitar 10 ribu Pasoepati sudah tiba di Stadion Mandala Krida. Padahal stadion yang terletak di pusat Kota Yogya itu 'hanya' berkapasitas 15 tibu saja.

Dari informasi berbagai sumber, sekitar pukul 12 siang, rombongan Pasoepati menggunakan 95 bus, beberapa truk, mobil pribadi dan sepeda motor berangkat secara konvoi. Mereka tiba di kawasan stadion sebelum kick-off.

Pasoepati memenuhi seluruh tribun terbuka. Sementara suporter tuan rumah yang tergaung dalam Paguyuban Tresna Laskar Mataram (PTLM) selaku tuan rumah hanya mendapatkan tempat di tribun tertutup.

Tak pelak, kick-off baru berjalan tiga menit, bentrokan sudah muncul hingga laga tak berlanjut. Saling lempar batu hingga terbakarnya sejumlah bus dan kendaraan milik suporter tim tamu jadi pemandangan menyedihkan.

Presiden Pasoepati saat itu, Mayor Haristanto tak bisa melupakan kejadian mencekam di Kota Gudeg. Terlebih, dia turut mengajak sang istri dan anak menyaksikan langsung duel itu.

Mayor masih merinding jika mengingat detik-detik evakuasi anggota Pasoepati dari stadion saat kerusuhan terjadi. Dirinya masih ingat bagaimana ribuan Pasoepati harus jalan kaki menuju lokasi parkir bus.

Baca Juga:

Marc Klok Sempat Berbohong Pensiun demi Main di Indonesia

Simpati Para Bintang Liga 1 2020 terhadap George Floyd

"Saat itu suasananya mencekam karena sudah sangat malam dan semua lampu mati. Saat kami tiba di parkiran bus, kaca jendela sudah pecah, rusak semua. Selain itu puluhan sepeda motor juga rusak parah," kenang Mayor.

Laga yang terhenti itu akhirnya dilanjutkan keesokan harinnya. PSIM mampu mengunci kemenangan 2-0, namun hasil itu tetap tak bisa menyelamatkan mereka dari jurang degradasi. (Laporan Kontributor Muhammad Fadly/Yogyakarta)