BolaSkor.com - Duel Real Madrid kontra Eibar di Stadion Alfredo Di Stefano, Senin (15/6) dini hari wib, punya makna istimewa bagi Zinedine Zidane. Pertandingan itu merupakan laga ke-200 Zizou sebagai pelatih Los Blancos.

Para pemain Madrid menyempurnakan momen istimewa Zidane tersebut dengan kemenangan. Tak tanggung-tanggung, Eibar dihajar dengan skor 3-1 pada laga perdana kedua tim di masa pandemi virus corona.

Tambahan tiga poin membuat Madrid menjaga jarak dengan sang pemuncak klasemen, Barcelona. Kedua tim masih terpisah dua poin dengan sepuluh laga tersisa.

Baca Juga:

5 Fakta Mengesankan Usai Real Madrid Menggulung Eibar: Sergio Ramos Paling Produktif

Real Madrid Menang 3-1, Zinedine Zidane Soroti Satu Kelemahan

Manchester United dan Real Madrid Bersaing Dapatkan Wonderkid Berusia 16 Tahun

Zinedine Zidane saat memberi instruksi kepada para pemain Real Madrid

Dari 200 laga, Zidane berhasil meraih 132 kemenangan, 26 kali kekalahan, dan 42 kali imbang. Ia membukukannya selama dua periode melatih yaitu 2016-2018 dan 2019 sampai saat ini.

Apa yang dilakukan Zidane bukan prestasi biasa. Tak mudah menangani klub sebesar Madrid dalam waktu lama.

Zidane menjadi pelatih ketiga yang bisa menangani Madrid sampai 200 laga. Ia hanya kalah dari Vicente Del Bosque (246 laga) dan Miguel Munoz (605 laga).

Seperti diketahui, Madrid merupakan salah satu klub raksasa bukan hanya di Spanyol tapi juga di Eropa. Tekanan menangani tim ini akan sangat berbeda dengan tim-tim lainnya.

Catatan tersebut juga membuat Zidane lebih baik dari para pelatih elite Eropa yang pernah menangani Madrid. Beberapa di antaranya adalah Jose Mourinho, Rafael Benitez, Carlo Ancelotti, Fabio Capello, hingga Jupp Heyenckes.

Mourinho yang terbilang sukses bersama Porto, Chelsea, dan Inter Milan hanya mampu memimpin Madrid dalam 178 laga. Hal itu dilakukan pada periode 2010 hingga 2013.

Carlo Ancelotti yang sukses mempersembahkan La Decima (trofi Liga Champions kesepuluh) hanya pernah memimpin Madrid sebanyak 119 laga. Sementara nama-nama lain bahkan tak mampu menembus angka 100.

Padahal secara pengalaman, Zidane masih relatif baru menekuni dunia kepelatihan. Pelatih berusia 47 tahun itu juga dianggap belum memiliki filosofi permainan yang jelas seperti halnya Pep Guardiola atau Mourinho.

Meski begitu, Zidane punya sebuah keahlian yang tak dimiliki para pelatih bernama besat tersebut. Ia mampu mengendalikan para pemain bintang Madrid menjadi satu kesatuan yang solid.

Kesulitan mengendalikan para pemain bintang merupakan salah satu penyebab utama kegagalan pelatih saat menangani Madrid. Namun Zidane mampu mengatasinya.

Hal itu bisa dibuktikan dengan tiga gelar Liga Champions yang diraih secara berturut-turut. Madrid menjadi satu-satunya klub di era modern yang mampu melakukannya.