BolaSkor.com - Begitu banyak cerita nyata dari pesepak bola profesional mengenai kerja keras untuk mencapai titik tertinggi dengan masa lalu yang sulit dari segi finansial. Cerita-cerita itu bisa menjadi inspirasi untuk tidak mudah menyerah.

Salah satu sosok dengan cerita yang inspiratif adalah penyerang berusia 29 tahun Luis Muriel. Prestasinya di sepak bola relatif biasa-biasa saja, tapi setidaknya penghasilan Muriel saat ini bisa membahagiakan keluarga serta menolong orang yang membutuhkan.

Luis Fernando Muriel Fruto, lahir di Santo Tomas, 16 April 1991. Ketika bermain sepak bola, mencetak gol atau di saat mendapati keputusan wasit bertentangan dengannya, Muriel hanya tersenyum - dan memang senyuman identik dengannya.

Baca Juga:

Luis Muriel Teman Duet yang Tepat untuk Duvan Zapata

Real Madrid Vs Atalanta, Keajaiban atau Kemalangan untuk La Dea?

Real Madrid Vs Atalanta, Karim Benzema Mengancam Gawang La Dea

Aksi Luis Muriel

"Terkadang saya tidak bahagia, tapi saya mencoba untuk tidak menunjukkannya," begitu ucapan Luis Muriel beberapa waktu lalu. Menyembunyikan perasaan aslinya agar orang terdekat sekitar tak mengetahuinya.

Hal itu bagus bagi orang sekitar agar tak menularkan aura negatif, tapi tidak bagus untuk dirinya. Meski begitu itulah Muriel, striker yang pernah membela Udinese, Sampdoria, Sevilla, Fiorentina, sebelum kini dengan Atalanta.

Berawal dari hidup yang sulit lalu menjadi pahlawan di Kolombia

Dikenal dengan sebutan Lucho di Bergamo, Atalanta, cerita perjalanan Muriel tidak semulus beberapa pesepak bola profesional di Eropa. Apabila tak menjadi pemain bola Muriel mungkin masih menjadi penjual jalanan di Kolombia.

Gol yang dicetak pada usia lima tahun mengubah kehidupannya untuk mulai menekuni sepak bola. Uang satu hal yang jauh dari keluarganya kala Muriel masih kecil.

Keluarga Luis Muriel

Ayahnya supir taksi yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga. Ayah dan anaknya juga berjualan tiket lotere di jalanan Santo Tomas, yang kemudian uangnya juga digunakan untuk transportasi sekolah Luis dan berlatih.

Gaji sang ayah bahkan tidak melebihi tujuh dollar per bulan - sekitar 20.000 peso Kolombia atau 81.000 rupiah. Uang yang tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Tak ayal Luis juga membantu keluarganya dengan menjual barang-barang buatan nenek di jalanan.

Pada 2001 Muriel mulai meniti karier di akademi Atletico Junior, berlanjut di akademi Deportivo Cali, promosi ke tim utama dan Udinese membuka jalan ke Eropa pada 2010. Semenjak saat itu kariernya membaik.

Muriel juga memiliki julukan Kolombia-nya Ronaldo karena memiliki kemampuan dribel bola bagus, teknik mumpuni, dan pergerakan bagus. Bayaran pertamanya di Udinese dibelikan taksi baru untuk sang ayah.

Tidak ada kepuasaan yang lebih baik untuk orang tua saat melihat anak yang dibesarkannya dapat mencari nafkah, bahkan membelikan barang yang tidak mereka minta.

Kacang tak lupa kulit, Muriel bahkan menjadi 'pahlawan' di Kolombia di tengah pandemi virus corona. Ketika gelombang pertama pandemi menyerang Italia dan Bergamo jadi kota terparah yang terkena, Muriel hidup sendirian.

Istri dan putrinya ada di Kolombia. Di tengah kesendirian mencari nafkah itu Muriel terus berkomunikasi. Kolombia memiliki masalah serius dalam mendapatkan bantuan pemerintah, Muriel pun tergerak dan melalui keluarganya di sana memberikan bantuan.

Istri Luis Muriel

Ibu Muriel, Elizabeth mengendarai truk pengiriman yang sudah berisikan makanan, obat, dan alat-alat yang diperlukan.

"Idenya agar tak membuat kepanikan. Pesan saya kepada Anda semua untuk tidak meremehkan situasi (pandemi virus corona), situasi ini bisa semakin parah (di Kolombia) seperti yang terjadi di sini (Italia)," tutur Muriel kala itu.

Mulia di luar lapangan sepak bola, tajam ketika bertanding. Muriel sudah mencetak 19 gol dari 35 laga musim ini bersama Atalanta. Permainan ofensif Gian Piero Gasperini dan tandem sesama Kolombia di lini depan, Duvan Zapata, membantu memaksimalkan karier Muriel.