BolaSkor.com - Arsenal akan menyambangi Etihad Stadium markas Manchester City pada lanjutan pekan lima Premier League, Sabtu (17/10) pukul 23.30 WIB. Sang guru Pep Guardiola akan kembali menghadapi muridnya Mikel Arteta.

"Kita semua harus mengklarifikasi siapa guru dan murid. Kami tidak meragukan apa yang dia lakukan dalam waktu singkat (untuk Arsenal), " kata Guardiola soal Arteta dikutip dari Goal.

"Dia beradaptasi dengan sangat baik dan cara timnya bermain saat ini sempurna untuk kualitas yang mereka miliki. Dia mampu membawa Arsenal kembali ke posisi mereka sebenarnya."

“Dia melakukannya dengan sangat baik di semua kompetisi dan Mikel adalah seorang pesaing dan seorang pejuang dan semua orang yang mencintainya sangat senang dengan apa yang dia lakukan di London," tutur Guardiola.

Arteta tiga tahun menjadi asisten Guardiola di City (2016-2019) sebelum melatih Arsenal. Dalam kurun waktu tiga tahun Arteta sudah memberikan titel Piala FA dan Community Shield. Di tangannya Arsenal bermain agresif dan Arteta tahu memaksimalkan skuadnya.

Baca Juga:

Pep Guardiola Wanti-wanti Lawan, Jangan Coret Manchester City dari Peta Persaingan Juara

Persamaan dan Perbedaan Guru-Murid, Pep Guardiola dan Mikel Arteta

Prediksi Manchester City Vs Arsenal: Tantangan Serius Murid kepada Sang Guru

Mikel Arteta dan Pep Guardiola

Arteta pun tahu taktik Guardiola namun itu bukan berarti timnya bisa dengan 'mudah' mengalahkan City di laga nanti.

"Saya mengenalnya dengan sangat baik karena kami bekerja bersama selama empat tahun dan punya hubungan yang sangat dekat," ucap Arteta.

"Kami berdua tahu bagaimana cara berpikir masing-masing dan solusi yang akan dibuat. Namun setelahnya, mencoba mencegah eksekusi gaya sepak bolanya di lapangan begitu sulit karena semuanya seperti berjalan 100 mil per jam. Ini jauh lebih sulit daripada yang dilakukan di papan taktik," tambah dia.

Seperti halnya Guardiola kepada Johan Cruyff atau sosok yang menjadi idolanya Marcelo Bielsa, ada persamaan dan perbedaan antara Arteta dan Guardiola.

Persamaan

Filosofi sepak bola keduanya sama: sama-sama bermain ofensif dan coba menghibur penonton. Arteta coba menerapkannya dengan jalan 'Arsenal's way' yang sudah menjadi DNA Arsenal selama bertahun-tahun di bawah arahan Arsene Wenger.

Akan tapi Arteta tidak 'ngotot' memaksakan Arsenal bermain ofensif hingga lupa pertahanan. Apabila dibutuhkan timnya dapat melakukan transisi bermain bertahan dengan taktik 3-4-3 yang sering diterapkan Arteta.

Dalam fase bertahan taktik itu bisa menjadi 5-2-2-1 dengan menyisakan Pierre-Emerick Aubameyang sebagai ujung tombak. Itulah mengapa Guardiola memuji Arteta karena tahu cara memaksimalkan kualitas skuadnya.

Sementara dari sisi Guardiola filosofi sepak bolanya sudah lama terkenal sejak melatih Barcelona, Bayern Munchen, dan kini dengan Man City. Meski penerapan ofensifnya berbeda-beda di tiap klub, Guardiola tak pernah mengkhianati filosofi sepak bola ofensif itu.

Mikel Arteta dan Pep Guardiola

Perbedaan

Guardiola cukup beruntung karena selalu mendapatkan klub yang mengabulkan permintaannya soal pemain yang diinginkannya, kemudian dibuktikannya melalui kesuksesan trofi di level liga dan permainan ofensif yang menghibur penonton.

Ketika jadi pelatih kepala Barcelona pun Guardiola sudah memiliki Lionel Messi dalam skuadnya. Situasi itu berbeda dengan Arteta yang karier kepelatihannya baru seumur jagung dan sejauh ini menuruti permintaan klub soal pemain, sebab ada Edu sebagai Direktur Olahraga Arsenal.

Belum diketahui apakah Gabriel Magalhaes, Willian, dan Thomas Partey datang karena permintaan Arteta, namun jika sang manajer diberi pemain-pemain yang diinginkan maka perbedaan itu akan terpangkas dengan Guardiola.