BolaSkor.com - Saarbrucken bukanlah nama orang atau perusahaan tenar melainkan klub kecil dari bagian Selatan Barat Jerman dan bermain di divisi empat kasta sepak bola Jerman. Lantas mengapa nama mereka ramai dibahas belakangan ini?

Ibarat kisah pertarungan David vs Goliath yang dianalogikan sebagai pertarungan si kecil kontra si besar, begitulah Saarbrucken menjelang laga melawan Bayer Leverkusen di semifinal DFB Pokal atau Piala Jerman, Rabu (09/06) dini hari WIB.

Leverkusen menjadi Goliath dan Saarbrucken menjadi David. Wajar, tim arahan Peter Bosz bermain di Bundesliga dan Saarbrucken di Regionalliga. Segala keunggulan membuat Leverkusen menjadi tim yang diunggulkan menang.

Namun siapa yang tidak suka kejutan di turnamen lokal seperti DFB Pokal? Bahkan kejutan kala tim kecil mengalahkan tim besar sering terjadi di ajang Piala FA. Hal serupa bisa terjadi kepada Leverkusen jika mereka lengah.

Baca Juga:

44 Gol di Seluruh Kompetisi, Robert Lewandowski Buru Rekor Gerd Muller di Bundesliga

Sekelumit Masalah Transfer dan Gaji Pesepak Bola di Tengah Pandemi Virus Corona dari Kacamata Agen Pemain

Kai Havertz Dianggap sebagai Titisan Zinedine Zidane

Keunggulan Leverkusen itu sederhananya bisa dilihat dari kondisi mereka yang lebih prima dari Saarbrucken. Akibat pandemi virus corona Saarbrucken tak bermain lagi selama 94 hari lebih karena Regionalliga sudah berakhir prematur.

Mereka duduk di urutan satu klasemen dan promosi ke 3 Liga (divisi tiga sepak bola Jerman). Tanpa laga kompetitif praktis Saarbrucken hanya berlatih di antara para pemain di sesi latihan.

"Ketika kami memainkan laga (kontra Leverkusen) kami bisa melihatnya nanti (kondisi pemain Saarbrucken). Kami hanya memainkan laga satu sama lain. Esensialnya laga 11 melawan 11 di sesi latihan," tutur Kianz Froese, pemain Saarbrucken kepada BBC Sport.

Perjalanan Saarbrucken sebelum menantang Leverkusen memang hebat. Mereka menyingkirkan dua tim Bundesliga dan dua tim dari divisi dua sepak bola Jerman.

Saarbrucken

"Kami memiliki empat perayaan besar. Setiap kemenangan adalah sesuatu yang tidak Anda duga sebelumnya. Tim divisi empat mengalahkan tim liga kedua, tim liga pertama, dua kali. Setiap kali Anda melakukannya ada emosi baru bak angin tornado," tambah Froese.

"Perasaan setelah memenangkan setiap pertandingan menjadi lebih tinggi. Ini adalah perasaan yang hanya bisa Anda alami dalam olahraga. Saat-saat seperti ini kami akan terus membawanya seumur hidup."

Saarbrucken akan terus menjaga mimpi itu. Sekedar informasi, klub yang berdiri sejak 18 April 1903 (117 tahun lalu) bukanlah klub baru di Jerman.

Menurut informasi yang dimuat Mirror mereka sudah dua kali finish sebelum runners-up di Liga Jerman pada 1943 dan 1952, bermain di Liga Eropa (format lama sebelum Liga Champions) pertama pada 1955 dan menantang AC Milan.

Saarbrucken

Pada pertemuan melawan Rossoneri Saarbrucken membuat tim Italia itu 'keringat dingin' sebelum akhirnya kalah agregat gol 5-7. Saarbrucken juga sudah tiga kali mencapai semifinal DFB Pokal dan terakhir kali terjadi pada 1985.

Die Molschder - julukan Saarbrucken - punya sejarah besar di Jerman dan Eropa, menarik untuk menanti apakah kejutan itu berlanjut kontra Leverkusen yang bermain tanpa Kai Havertz karena cedera.

Biarkan mimpi Saarbrucken terus terjaga di Jerman di tengah pandemi virus corona. Di dalam stadion tanpa penonton kedua tim punya kans sama besar untuk ke final.

"Sejauh ini sudah tidak nyata untuk keseluruhan tim (Saarbrucken) untuk menjadi bagian sejarah yang datang sejauh ini," pungkas Froese yang punya paspor Kanada itu.