BolaSkor.com – Popularitas sepak bola putri di Indonesia perlahan mulai meningkat dan sudah diperhitungkan. Ini tak lepas dari peran PSSI yang menggelar Liga 1 Putri dan berbagai turnamen lainnya.

Memang paras wajah mereka yang cantik menjadi daya untuk para kaum Adam. Namun, terlepas dari itu semua, mereka ingin menunjukkan kualitasnya dalam mengolah si kulit bundar untuk bisa mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia.

Salah satunya Shalika Aurelia dan Safira Ika Putri melalui Timnas Putri Indonesia. Banyak yang tidak tahu bagaimana keduanya mengawali karier hingga membuktikan diri pantas membela Garuda Putri.

Baca Juga:

Karateka Multitalenta Maya Sheva Bicara soal SEA Games, Orang Tua, dan Pacar

Timnas Indonesia U-19: Fakhri Husaini, Kekompakan, dan Panggung Piala Dunia U-20 2021

Safira Ika Putri
Safira Ika Putri (BolaSkor.com/Grafis)

Dari Badminton-Balet ke Sepak Bola:

Safira Ika memulai karier sebagai atlet justru dari cabang olahraga Badminton. Tapi karena cedera yang diterimanya di tangannya, membuat beralih profesi dan melihat ketertarikan pada sepak bola.

Sempat tidak disetujui oleh kedua orang tuanya, karena dirasa sepak bola merupakan olahraga yang sangat identik dengann laki-laki. Namun pada akhirnya, ia bisa membuktikan kepada orang tuanya dari sepak bola bisa memberikan prestasi.

“Jadi dulu sebenernya itu aku atlet Badminton. Aku punya adik cowok, dia atlet sepak bola, kita sering latian bareng. Pada saat aku latihan Badminton aku sempat cedera di bagian tangan dan aku putusin selesai badminton pada saat itu,” ujar Ika dalam wawancara eksklusif bersama BolaSkor.com.

“Terjun di sepak bola karena aku senang liat adik aku latihan. Terus aku sering antar dia latihan, alhasil aku suka sama sepak bola. Mulai dari situ aku mulai latihan bola bareng sama adik, tapi disitu orang tua aku belum tahu. Bahkan aku beli sepatu bola pertama mereka gak tahu,” tambahnya.

Ketika ia sedang merasa jatuh cinta dengan sepak bola pada tahun 2015, PSSI dibekukan, dan itu membuat mental Ika drop. “Sebenernya aku bisa masuk Timnas Indonesia Putri, tahun 2015, yang paling berjasa ya coach Rully Nere dia yang ajak aku seleksi,” ujar Ika.

“Pada saat sudah lolos, tapi PSSI dibekukan, itu momen yang bikin aku drop. Akhirnya PSSI kembali, hingga aku bisa membela Timnas Putri di Asian Games 2018. Itu momen paling berkesan aku. Dan aku terus belajar sampai akhirnya aku bisa di titik ini dan bisa bermain untuk SEA Games,” pungkas pemain TIRA-Persikabo di Liga 1 Putri itu.

Baca Juga:

Dewi Putri Sungging Sari: Bangkit dari Cedera ACL, Juara Lima 2019, dan Lanjutkan Cita-cita

Anggita Oktaviani: Sang Barista yang Membahagiakan Orang Tua Lewat Sepak Bola

Shalika Aurelia Viandrisa
Shalika Aurelia Viandrisa (BolaSkor.com/Grafis)

Sama halnya dengan Shalika Aurelia, mengenal sepak bola sejak usia empat tahun dan langsung menyukai olahraga tersebut. Shalika ditentang oleh keluarganya karena wanita itu harus terlihat feminim, tidak untuk bermain bola.

Bahkan gadis kelahiran Jakarta ini 16 tahun silam ini sempat diikui kursus balet. Shalika yang sudah menyukai olahraga pria sejak kecil ketika itu sangat tidak senang dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti les dan memilih sepak bola.

“Aku main bola dari umur 4 tahun karena saudara aku itu cowok semua dan aku ga disetujui sama orang tua, karena menurut mereka cewe itu harus feminim. Aku boleh main bola asalkan aku les balet,” ucap Shalika dalam wawancara eksklusif bersama BolaSkor.com.

“Jujur aku sempat tidak didukung karena orang tua aku lihat dari sepak bola tidak bisa jadi apa-apa. Bahkan dulu aku juga sempat dipaksa main golf. Sempat vakum, tapi aku main bola lagi sama ASTAM, dan dari situ aku masuk Timnas Indonesia U-16,” tambahnya.

Kisahnya tidak sampai situ saja, ketika menginjak umur 14 tahun dan sudah masuk masa puber, Shalika sudah tidak nyaman berlatih sepak bola bersama pria hingga akhirnya ia mamutuskan berangkat ke Amerika untuk menimba ilmu sepak bola di sana.

Selepas kembali ke Indonesia Shalika langsung kembali masuk Timnas Indonesia dan masuk dalam skuat Piala AFF dan kualifikasi Piala Asia. Lalu ia yang mendapatkan bea siswa ke Inggris langsung memilih sekolah di sana dan pada saat itu ia dilirik oleh salah satu tim besar di Inggris, West Ham United.

“Setelah aku masuk Timnas Indonesia di AFC dan AFF, Aku dapat beasiswa ke inggris, di sana aku belajar sama main bola. Sampai akhirnya West Ham mau lihat aku latihan, dan aku dipanggil ke trialnya. Tim pelatih di sana lihat aku latihan dua kali mereka langsung panggil aku untuk bermain di U-21 West Ham,” ujar Shalika.