BolaSkor.com - Legenda sepak bola Belanda, Wesley Sneijder menghabiskan 17 tahun hidupnya berkarier sebagai pesepak bola profesional. CV yang dimilikinya juga berhiaskan trofi dengan Ajax Amsterdam, Real Madrid, Inter Milan, dan Galatasaray.

Bersama timnas Belanda Sneijder memiliki 134 caps dan 31 gol dari medio 2003 hingga 2018. Catatan tertingginya di level internasional adalah runner-up Piala Dunia 2010 dan juara ketiga Piala Dunia 2014, namun namanya tetap ada dalam sejarah sepak bola Belanda.

Produk akademi Ajax adalah gelandang serang klasik dengan kemampuan mengatur serangan, memiliki visi bermain bagus, operan akurat, dan menjadi nilai plus apabila dia melepaskan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti.

Pada masa keemasannnya Sneijder sulit dihentikan dan punya kekuatan tendangan jarak yang bagus. Kendati demikian tidak selamanya perjalanan karier pemain berjalan mulus layaknya jalan tol tanpa ada kemacetan.

Baca Juga:

Wesley Sneijder Bisa Sekelas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tetapi...

Thibaut Courtois Semakin Dekat Akhiri Rekor Zamora Kiper Atletico Madrid

Gol Tendangan Bebas, Penantian Sergio Ramos Selama Enam Tahun

Wesley Sneijder dengan timnas Belanda

Wesley Sneijder juga berada di masa sulit kala ia memperkuat Real Madrid dari medio 2007-2009. Usianya berumur 23 tahun kala datang ke Santiago Bernabeu setelah lima tahun bermain di tim utama Ajax.

Pindah ke Spanyol dan bergabung dengan klub sebesar Real Madrid mengubah kehidupan Sneijder. Selain beradaptasi dengan kultur dan gaya main sepak bola Spanyol, Sneijder juga terkena stardom yang mengubah gaya hidupnya.

Apabila Anda sudah pernah menyaksikan film "Goal" maka kurang lebihnya kehidupan di luar lapangan Sneijder seperti itu. Alkohol perlahan menghancurkan kariernya di Madrid.

Wesley Sneijder

"Saya masih muda dan saya suka kesuksesan dan menjadi pusat perhatian. Tapi hal-hal buruk terjadi di sana. Itu bukan narkoba, tetapi alkohol. Saya harus terbiasa untuk hidup seperti bintang," cerita Sneijder dikutip dari Marca.

"Anda dipuja sebagai (pemain) Real Madrid dan pergi ke jalan menghabiskan ribuan euro dan membelikan orang-orang sesuatu. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya kehilangan apapun. Saya bermain cukup baik, tetapi dikatakan bahwa saya (seharusnya) bisa melakukan lebih baik lagi."

"Saya tinggal sendirian dan saya melihat Jessey kecil sangat kecil. Saya hanya bisa sendirian ... dan saya tidak menyadari bahwa botol vodka telah menjadi sahabat saya."

Kecenderungan Sneijder meminum alkohol itu merusak kariernya di Real Madrid. Dia menjadi tidak fokus berlatih dan gagal memberikan kualitas terbaiknya.

"Secara fisik, saya tidak menyadari. Saya bangun di hari berikutnya seolah-olah tidak ada yang terjadi," imbuh Sneijder.

"Saya terus berlatih tetapi semakin buruk setiap kali dan jelas kurang fokus. Saya berbohong pada diri sendiri, mengatakan bahwa semuanya berjalan baik dan berlindung pada kecerdasan sepak bola saya."

"Saya tenggelam secara fisik. Saya kurang berlari, saya lebih sering bersembunyi dari pelatih. Saya juga berpikir tidak ada yang akan memperhatikan," urai dia.

Madrid menjualnya pada 2009 ke Inter Milan dan keputusan pindah Sneijder pun tepat. Pasalnya di bawah naungan Jose Mourinho, Sneijder menjadi pemain kunci di balik suksesnya klub memenangi treble winners pada 2010.