BolaSkor.com - Satu demi satu ikon AS Roma pergi dari klub Ibu Kota Italia, baik itu sebagai pemain atau staf di jajaran direksi. Menyusul kepergian Daniele De Rossi, kini giliran mantan kapten Giallorossi, Francesco Totti.

Lelaki berusia 42 tahun sedianya sudah pensiun bermain sepak bola dari tahun 2017, mengakhiri perjalanan kariernya yang panjang dari 1989 (terhitung dari akademi Roma). Roma jadi satu-satunya klub yang diperkuat Totti.

Semenjak gantung sepatu, Totti menjadi Direktur Teknik Roma. Dia sudah menekuninya selama dua tahun. Tapi, hubungannya tidak pernah baik dengan jajaran direksi, khususnya dengan James Pallotta, Presiden Roma.

Baca Juga:

5 Pemain Spesial yang Pernah Mendapatkan Tepuk Tangan dari Suporter Lawan

AS Roma Batal Tampil di International Champions Cup 2019

Teken Kontrak Dua Tahun, Paulo Fonseca Resmi Latih AS Roma

Francesco Totti

"Saya mengundurkan diri sebagai Eksekutif Roma. Saya berharap hari ini tidak pernah datang, malahan hari yang buruk dan berat ini tiba. Saya tak pernah punya kans bekerja di area teknik bersama Roma," tutur Totti, dikutip dari BBC Sport.

"Ini lebih buruk ketimbang pensiun sebagai pemain. Meninggalkan Roma seperti halnya mati. Saya merasa lebih baik bagi saya jika saya mati."

Seakan melanjutkan komentar De Rossi beberapa waktu lalu, yang mengkritisi cara manajemen menangani Roma, Totti pun demikian. Bahkan lebih lantang dalam menyuarakan pendapatnya.

"Ini klub yang harusnya dicintai dan didukung. Seharusnya tidak ada fraksi pendukung pro-Totti, pro-Palotta, atau pro- (Franco, Direktur Olahraga Roma) Baldini," tegas Totti.

"Seperti yang telah saya katakan, presiden berganti, pelatih berganti, pemain berganti, tapi tidak dengan bendera klub. Mereka tahu niatan saya dan apa yang saya inginkan, untuk memberikan banyak hal kepada klub dan tim, tapi mereka, jujur saja, tak pernah menginginkan saya. Mereka menyingkirkan saya di tiap keputusan."

Juara Piala Dunia 2006 dengan timnas Italia menilai kedatangan Palotta, yang punya latar belakang kelahiran Amerika Serikat, beserta staf yang dibawanya, seolah menginvansi Roma dan menyingkirkan pemain-pemain asli Roma.

"Selama delapan tahun terakhir, sejak orang-orang Amerika datang, mereka mencoba di tiap cara yang memungkinkan untuk menyingkirkan kami (orang Roma)," tambah Totti.

"Selagi tahun demi tahun berganti, mereka telah mencoba segalanya yang dapat dilakukan ... ini yang mereka inginkan dan pada akhirnya, mereka sukses," pungkasnya.